PENDAFTARAN ANGGOTA PERPUSTAKAAN UMUM KOTA PEKALONGAN


  KATALOG DINARPUS

  BUKU TERPOPULER




  KATEGORI
Adat Istiadat (2)
Agama (2)
Akuntansi (1)
Batik (1)
Biografi (7)
Ekonomi (1)
Geologi (1)
Hukum (11)
Industri (1)
Info Pekalongan (14)
Kebijakan Umum Daerah (2)
Kebudayaan dan Pariwisata (1)
Kelautan (1)
Kesehatan (8)
Kesejahteraan Masyarakat (2)
Kesenian (2)
Komputer (3)
Laporan Penelitian (18)
Lingkungan (1)
Manajemen (1)
Masalah Sosial (1)
Pariwisata (1)
Pemberdayaan Wanita (1)
Pendidikan (3)
Peraturan Daerah (12)
Peraturan Walikota (9)
Perpustakaan (3)
Politik (1)
Sastra (6)
Sejarah (19)
Seni (11)
Statistik (36)
Terbitan Berkala (14)



(57) kali dilihat
Wayang Beber

Wayang telah berkembang berabad-abad terutama di ]awa dan Bali. Mula-mula kehadiran wayang tidak semata sebagai pertujukan, melainkan terkait erat dengan kegiatan ritual. Kemudian berfungsi sebagai media dakwah dan pendidikan, lalu menjadi media hiburan sebagai tontonan yang dipandang sarat dengan tuntunan. Dalam perkembangannya itu \ahirlah berbagai bentuk dan jenis wayang. Dari segi ceritera yang dituturkan, antara lain  terdapat wayang purwa, wayang gedog, wayang menak, wayang suluh, wayang sadat. Sebagai sarana pertunjukan, wayang terbuat dari bermacam bahan dengan bentuknya  masing-masing . Dari segi bahan dan bentuknya antara lain terdapat wayang kulit, wayang
golek, wayang batu, wayang lontar, dan wayang beber. Wayang beber mula-mula terbuat dari kertas kulit kayu (daluwang) berupa lukisan berkisah, tersaji dalam sejumlah adegan atau sekuen, dalam bentuk gulungan yang bisa direntang dan dibuka di setiap bagiannya. Wayang beber sangat populer pada masa Majapahit akhir, kemudian berlanjut sampai zaman kerajaan Mataram Islam. Sebagai artefak kini wayang beber hanya ada dua perangkat dengan lakon Jaka Kembang Kuning dan Remeng Mangunjaya. Masing-masing dimiliki oleh keluarga di Pacitan, Jawa Timur dan Wanasari, Gunung Kidul Yogyakarta. Kedua perangkat itu sekarang sudah banyak yang rusak dan semakin langka dalang yang dapat memainkannya. Sebagai lukisan berkisah, kini wayang beber disalin, dilukis ulang di atas kain atau kanvas tetapi bukan sebagai sarana pertunjukan melainkan dibuat sebagaimana lukisan yang bisa dipajang di dinding. Keadaannya hampir mirip dengan lukisan klasik Bali gaya lukisan wayang Kamasan, yang masih berkembang sampai sekarang atau juga ider-ider, lukisan kisahan pada kain panjang untuk penghias pura. Bahkan di Bali masih ditemui pembuatan prasi, bentuk gam bar berkisah di atas lontar.



Penulis : Aryo Sunaryo
Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Museum Jawa Tengah Ranggawarsita
Tahun Terbit
: 2018
Subjek :Kesenian;

Wayang Beber
Wayang telah berkembang berabad-abad terutama di ]awa dan Bali. Mula-mula kehadiran wayang tidak semata sebagai pertujukan, melainkan terkait erat dengan kegiatan ritual. Kemudian berfungsi sebagai ...
Keris Jawa Tengah
Seni dan budaya tumbuh berkembang secara dinamis dan turut membentuk identitas dan adat budaya masyarakat pendukungnya. Salah satu karya seni budaya yang dernikian lekat perannya membentuk karakter ...